Pakar Hukum Ini Ungkap Cara ‘Sentil’ Pemerintah Tanpa Kena Pasal UU ITE

Muhammad Taufiq

Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Muhammad Taufiq, mengungkapkan sejumlah tips bagaimana memanfaatkan media sosial untuk menyentil/mengkritik pemerintah tanpa kena jerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pasalnya, menurut dia, sejak pemerintah membentuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), kemungkinan akan terjadi banyak penangkapan terhadap pegiat media sosial.

Ketua DPC Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia) itu mengatakan, langkah awal aman mengkritisi pemerintah, lembaga ataupun personal adalah dengan mengambil sumber formal.

“Mengambil sumber formal, lebih enaknya sumber formal itu media cetak. Kalau online ya di screenshot secara utuh, di muat disitu agar anda aman,” katanya di kantor MT&P FIRM, Laweyan, Solo, Jumat (6/1/2018).

Penulis buku ‘Terorisme Dalam Demokrasi’ itu menilai saat ini pemerintah mulai tabu menerima kritik dari masyarakat. Oleh karena itu, mengkritik tanpa harus menyebutkan nama aslinya namun masyarakat sudah paham siapa yang dimaksud, merupakan langkah aman dari aktifitas berselancar di dunia maya.

“Kemudian yang kedua kalau anda mengkritik berlebih, sekarang ini sudah periode baru ada wilayah tabu jangan menyebut nama, jangan menyebut temannya, jangan menyebut keluarganya. Artinya kalau kita menyebut itu, tidak perlu dijelaskan, orang akan langsung tahu kalau itu orang yang kita kritik,” ujarnya.

Taufiq juga menyarankan agar jangan mengunggah berita abal-abal dan membagikan sumber yang tidak jelas.

Menurut dia, dalam aturan hukum, Hakim akan bertindak mengadili perkara terhadap transaksi elektronik yang bersumber utama dan real.

“Hindarilah memuat hal-hal yang tidak jelas, misal memforward WA kemudian langsung dimuat. Ini bahaya, meskipun orang hukum saya bisa katakan bahwa sebenarnya yang bisa dipidana andaikata dengan Siber Crime, UU ITE, itu yang asli. Jadi seperti Habib Rizieq itu kalau saya jadi saksi ahli, sampai kapanpun tidak bisa dipidana. Lha wong dia nggak pernah nge-chat kok, harus dapat chat langsung kalau itu memang Habib Rizieq,” katanya.

“Jadi kan misalnya ngambil punyanya orang terus di-cut dan dimuat, saya ditangkap. Itu nggak bener, yang terjadi kan seperti itu. Jadi satu, muatlah dari sumber yang sudah jelas, dua jangan mengedit itu nambahi, kemudian jangan membuat judul yang provokasi,” pungkasnya.